DISKUSI ILMIAH

Rangkuman 2

Rangkuman 2

by Khulafatussofiyah . -
Number of replies: 0

RANGKUMAN 2

NAMA            : Khulafatussofiyah

NIM                : 20180350079

Program Studi : Farmasi

Judul               : Analisis minyak babi pada krim pelembab wajah yang  mengandung minyak zaitun dengan menggunakan spektroskopi ftir (fourier transform infared)

 

Minyajk Zaitu merupakan minyak yang banyak digunakan dalam industry kosmetik khususnya dalam pembuatan Krim. Tetapi, dapat diketahui bahwa harga Minyak Zaitun sangatlah mahal, untuk itu resiko penggunaan minyak lain yyang lebih murah sangat tinggi, contohnya penggunaan Minyak Babi yang harganya relative murah. Akan tetapi hal ini menjadi masalah yang serius bagi kaum muslim.

Dalam surah Al-Baqoroh ayat 173 terkandung hal-hal yang di larang oleh Allah SWT, yaitu : “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa, sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dapat diketahui, dalam ayat tersebut dalam islam sudah dilarang keras untuk mengkonsumsi daging babi dan seluruh tubuhnya. Ayat lain yang juga memuat keharaman babi yaitu surat Al-An’am ayat 145, Al-Maidah ayat 3 dan An-Nahl ayat 115.

 

1.1               Krim

Krim merupakan satu sediaan emulsi yang konsistensinya lebih kental dari biasanya. Emulsi adalah sediaan dasar berupa sistem dua fase, terdiri dari dua cairan yang tidak bercampur, dimana salah satu cairan terdispersi dalam bentuk globul dalam cairan lainnya (Departemen Kesehatan, 1985). Emulsi juga dapat diartikan sebagai suatu disperse dimana fase terdispersi terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat terdistribusi keeluruh pembawa yang tidak bercampur (Ansel, 1989)

1.2       Macam-macam Krim  :

Krim mengandung paling sedikit dua fase yang tidak bercampur anatara satu dengan yang lainnya, yaitu fase Hidrrofil (air) dan Lipofil (Minyak). Komponen yang terdistribusi dalam suatu emulsi dinaytakan sebagai fase terdispersi atau fase dalam. Komponen yang mengandung cairan terdispersi dinyatakan sebagai bahan pendispeersi atau fase luar atau fase kontinyu (Ansel, 1989). Jenis-jenis Emulsi yaitu :

1.                   Emulsi Minyak dalam Air (M/A)

Ketika fase minyak didispersikan sebagai globul-globul ke dalam fase air maka disebut emulsi minyak dalam air (M/A). alasan-alasan penerimaan yang tinggi terhadap emulsi (M/A) :

  • ·         Terasa ringan dan tidak berminyak saat diaplikasikan,
  • ·         Menunjukkan penyebaran dan penyerapan pada kulit yang cukup baik,
  • ·         Memberikan efek dingin karena penguapan fasa air eksternal (Paye, et al., 2001).

2.              Emulsi Air dalam Minyak (A/M)

Ketika fase minyak terdispersi dalam fase air disebut emulsi air dalam minyak (A/M). keuntungan penggunaan emulsi ini yaitu :

  • ·         Melindungi kulit secara efisien dengan membentuk lapisan minyak pada kulit setelah digunakan.
  • ·         Melembutkan kulit dengan cara mengurangi penguapan air pada kulit sehingga dapat membentuk penghalang semi oklusif.
  • ·         Meningkatkan penetrasi ke dalam stratum korneum yang bersifat lipofilik terutama untuk pembawa zat aktif yang bersifat lipofilik.
  • ·         Menurunkan resiko pertumbuhan mikroba.
  • ·         Mencair pada suhu yang rendah (khusus untuk produk olahraga musim dingin)(Paye, Barel dan Maibach, 2001).

 

1.3               Zat Pengemulsi atau Emulgator

Emulgator yang diharuskan antara lain :

  • ·           Dapat dicampur dengan bahan formulative lain.
  • ·           Tidak menganggu stabilitas atau efikasi dari zat terapeutik.
  • ·           Stabil dan tidak terurai dalam preparat.
  • ·           Tidak toksik.
  • ·           Kemampuan untuk membentuk emulsi secara optimal dan menjaga stabilitas emulsi tersebut agar tercapai Shelf life dari produk tersebut (Ansel, 1989).

 

2.1       Minyak dan Lemak

2.1.1    Sifat-sifat Fisik lemak dan Minyak

1.         Kelarutan

Sifat fisik yang paling jelas yaitu tidak larut dalam air. Hal ini disebabkan oleh adanya asam lemak berantai karbon Panjang dan tidak adanya gugus-gugus polar.

2.         Viskositas

Viskositas minyak dan lemak biasnya bertambah dengan bertambahnya Panjang rantai karbon, berkurang dengan naiknya suhu dan berkurang dengan tidak jenuhnya rangkaian karbon (Buckle, et al., 1985)

3.         Plastisitas

Plastisitas lemak disebabkan karena lemak merupakan campuran trigliserida yang masing-masing mempunyai titik cair tersendiri, ini berarti bahwa pada suhu sebagian dari lemak akan cair dan sebagian lagi dalam bentuk kristal-kristal padat (gaman & Sherrington, 1994).

4.         Titik cair

Lemak mencair ketika dipanaskan. Karena lemak adalah campuran trigliserida mereka tidak mempunyai titik cair yang jelas tetapi akan mencair pada suatu rentang suhu (Gaman & Sherrington, 1994).

 

2.1.2    Isolasi Lemak dan Minyak

1.         Perlakuan Awal Sumber

2.         Pemasakan Lemak Hewan

Tujuan Proses Ektrasi   :

  • ·         Untuk memperoleh minyak atau lemak tanpa dirusak oleh proses itu dan dalam keadaan semurni mungkin.
  • ·         Untuk memperoleh hasil minyak atau lemak setinggi mungkin.
  • ·         Untuk menghasilkan sisa (residu) yang bernilai setinggi mungkin.

 

2.1.3          Minyak Babi

Minyak babi adalah lemak yang diambil dari jaringan lemak hewan babi. Babi adalah hewan monogastik dan simpanan lemak mereka menyerupai asupan makanan sehingga derajat ketidakjenuhan lemak babi di tentukan oleh jumlah dan komposisi asam lemak dari minyak dalam makanan yang mereka makan (O’Brien, 2009).

Minyak babi memiliki kandungan trigliserol yang lebih sedikit dari pada lemak sapi. Oleh sebab itu, lemak babi melebur pada temperature yang lebih rendah.

 

2.1.4          Miinyak Zaitun

Minyak Zaitun adalah minyak yang diperoleh dari buah pohon zaitun. Minyak zaitun telah digunakan dalam obat pencahar, linimert, salep dan sabun serta telah digunakan dalam kapsul oral dan larutan. Minyak ini digunakan secara luas dalam industry makanan sebagai minyak goreng dan untuk menyiapkan salad dressing. Dalam kosmetik, digunakan sebagai pelarut juga sebagai kondisioner kulit dan rambut.Analisis minyak zaitun menunjukkan kadar asam lemak tak jenuh yang tinggi.

 

 

 

2.3       Spektroskopi Inflamerah

Spektroskopi Infamerah adalah satu dari Teknik spektroskopi yang paling umum digunakan oleh kimia organic dan anorganik. Secara sederhana, pengukuran serapan dari perbedaan  frekuensi infra merah pada sampel yang ditempatkan pada sebuah beam inframerah. Tujuan utamanya adalah menentukan gugus-gugus fungsi molekul (Mulja & Suharman, 1995).

Spektrum adalah grafik dari Panjang gelombang dan energi yang diadsorpsi oleh suatu senyawa. Spektrum inframerah adalah plot intensitas penyerapan terhadap bilangan gelombang yang dinyatakan dengan jumlah gelombang dalam satuan cm-1. Bilangan gelombang adalah radiasi di daerah vibrasi inframerah dari spektrum elektromagnetik.

 

2.3.1    Instrumentasi

a.       Spektrometer Inframerah Dispersif

Spektrometer Inframerah Dispersif terdiri dari sumber radiasi, kompartemen sampel, monokromator, detector, amplifier dan rekorder.

b.       Spectrometer inframerah Transformasi Fourier

Menggunakan cermin bergerak untuk memindahkan bagian radiasi yang dihasilkan oleh suatu interferogram yang dapat diubah menggunakan suatu persamaan yang disebut transformasi fourier. Keuntungan dari Teknik ini adalah seluruh hasil pindai spektrum didapat dalam waktu satu detik, berbeda dengan spectrometer Inframerah dispersive yang memerlukan waktu dua sampai tiga menit untuk mendapatkan satu spektrum.

 

2.4       Kemometrik

Kemometrik adalah disiplin ilmu kimia yang menggunakan matematika, statistic dan logika formal yang digunakan untuk merancang atau memilih prosedur eksprimental yang optimal serta untuk memberikan informasi kimia maksimum yang relevan dengan menganalisis data kimia (Hopke, 2003). Teknik :

1.         Pengolahan data : dapat berupa derivatisasi hasil spektrum.

2.         Pengelompokkan

  • ·         Pengenalan pola tersupervisi
  • ·         Pengenalan pola

3.         Analisis Kuantitatif

a.         Kalibrasi Multivariat (classical least square, SMLR, PCR, dan PLS)

PCR dan PLS adalah yang sering digunakan dalam analisis spektrum kuantitatif untuk mendapatkan informasi yang selektif dari data yang tidak selektif. Regresi PLS merupakan Teknik analisis yang snagat canggih. PLS memerlukan konsentrasi lebih baik dari pada itensitas spectral sebagai variable independent (Pare J.R, 1997)

 

2.5       Metode Penelitian

            Pada penelitian ini prosedur kerja yang dilakukan yaitu :

a.          Preparasi minyak babi.

b.         Analisis campuran minyak dengan spektroskopi FTIR.

c.          Penentuan formulasi krim pelembab wajah.

d.         Pembuatan krim pelembab wajah.

e.          Ektrasi minyak.

f.          Pengujian dengan spektroskopi FTIR

g.         Analisis data.

 

2.6       Hasil Analisis

Dari hasil analisis dapat ditemukan kesimpulan yaitu metode spektroskopi Fourier Transfor Infared (FTIR) dapat membedakan spektrum minyak babi dalam campuran dengan minyak zaitun pada formulasi krim pelembab wajah secara kualitatif dengan bantuan Principal Component Analysis (PCA) dan secara kuantitatif dengan bantuan Partial Least square (PLS) dengan batas deteksi 11,92%.